SMK NEGERI 1 WONOSEGORO SOSIALISASIKAN SEKOLAH BERINTEGRITAS, TANAMKAN NILAI ANTIKORUPSI MELALUI PEMILIHAN KETUA OSIS
Wonosegoro, Boyolali — SMK Negeri 1 Wonosegoro terus berupaya membangun karakter peserta didik yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan berintegritas melalui kegiatan sosialisasi sekolah berintegritas dengan mengangkat isu pendidikan antikorupsi dan pemilihan Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya sekolah dalam menanamkan nilai-nilai antikorupsi sejak dini sekaligus membangun budaya demokrasi yang sehat di lingkungan pendidikan.
Kegiatan yang diikuti oleh para peserta didik tersebut dilaksanakan di lingkungan SMK Negeri 1 Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, pada Rabu tanggal 30 September. Sosialisasi menghadirkan Sri Hartanti, S.Pd., selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Negeri 1 Wonosegoro, serta Cahaya Asifa sebagai perwakilan siswa yang turut menyampaikan pandangan mengenai pentingnya integritas dalam kehidupan sekolah.
Dalam pemaparannya, Sri Hartanti, S.Pd. menekankan bahwa sekolah berintegritas tidak hanya diwujudkan melalui kepatuhan terhadap tata tertib, tetapi juga melalui perilaku jujur, sikap adil, tanggung jawab, kedisiplinan, dan keberanian untuk melakukan hal yang benar. Nilai-nilai tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kegiatan pembelajaran, organisasi siswa, maupun interaksi antarsesama warga sekolah.
Menurutnya, pendidikan antikorupsi perlu dikenalkan kepada peserta didik sejak bangku sekolah agar mereka memahami bahwa perilaku koruptif tidak hanya berkaitan dengan penyalahgunaan uang atau jabatan, tetapi juga dapat berawal dari kebiasaan tidak jujur, menyalahgunakan kepercayaan, melanggar kesepakatan, dan tidak bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan.
Salah satu momentum penting untuk menanamkan nilai-nilai tersebut adalah melalui proses pemilihan Ketua OSIS. Pemilihan pemimpin organisasi siswa bukan sekadar kegiatan pergantian kepengurusan, melainkan juga sarana pembelajaran demokrasi, kejujuran, keadilan, transparansi, dan tanggung jawab.
Melalui pemilihan Ketua OSIS, peserta didik diharapkan memahami pentingnya memilih pemimpin berdasarkan kemampuan, visi, misi, program kerja, dan keteladanan, bukan karena tekanan, imbalan, atau kepentingan kelompok tertentu. Setiap calon juga diharapkan mampu menyampaikan gagasan secara jujur, berkompetisi secara sehat, serta menerima hasil pemilihan dengan lapang dada.
Cahaya Asifa, selaku perwakilan siswa, turut menjadi bagian dari sosialisasi tersebut. Keterlibatan siswa diharapkan dapat memperkuat kesadaran bahwa mewujudkan sekolah berintegritas bukan hanya tanggung jawab guru dan pihak sekolah, melainkan juga membutuhkan partisipasi aktif seluruh peserta didik.
Dalam konteks organisasi siswa, integritas dapat diwujudkan dengan tidak melakukan kecurangan selama proses pemilihan, tidak menyebarkan informasi yang menyesatkan, menghargai perbedaan pilihan, serta memberikan kesempatan yang sama kepada setiap calon. Setelah terpilih, Ketua OSIS dan seluruh pengurus diharapkan mampu menjalankan amanah secara terbuka, adil, dan bertanggung jawab.
Sosialisasi ini sejalan dengan semangat Pendidikan Antikorupsi yang mendorong penanaman nilai-nilai jujur, mandiri, bertanggung jawab, berani, sederhana, peduli, disiplin, adil, dan kerja keras dalam lingkungan pendidikan. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menekankan pentingnya membangun budaya integritas melalui keterlibatan seluruh unsur dalam ekosistem pendidikan.
Melalui kegiatan ini, SMK Negeri 1 Wonosegoro berharap peserta didik tidak hanya memahami konsep sekolah berintegritas secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam tindakan nyata. Pemilihan Ketua OSIS yang jujur dan demokratis diharapkan menjadi contoh praktik baik dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, berani menolak kecurangan, dan siap menjadi pemimpin yang amanah.
Dengan demikian, sekolah berintegritas bukan sekadar slogan, melainkan komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang bersih, transparan, adil, dan bebas dari perilaku koruptif, dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari.
